Praktik housekeeping diambil langsung di Hotel, salah satunya ke lombok garden hotel. Disamping dibimbing oleh pak Murdane yang sudah ahli dalam bidangnya juga langsung secara teori dan praktik. Kunjungan kali ini ke hotel lombok garden memberikan wawasan baru bagaimana sistem kerja housekeeping mulai dari maintenance hingga making bed.
Terima kasih pak Murdane
inaq amaq semeton jari,, ngiring seriu'ang postingan bloger tiang niki, saq mule maiq meres gati,,,,
Senin, 18 Juni 2012
Gili trawangan on sunset
Gili Trawangan adalah yang terbesar dari ketiga pulau kecil atau gili yang terdapat di sebelah barat laut Lombok. Trawangan juga satu-satunya gili yang ketinggiannya di atas permukaan laut cukup signifikan. Dengan panjang 3 km dan lebar 2 km, Trawangan berpopulasi sekitar 800 jiwa. Di antara ketiga gili tersebut, Trawangan memiliki fasilitas untuk wisatawan yang paling beragam; kedai "Tîr na Nôg" mengklaim bahwa Trawangan adalah pulau terkecil di dunia yang ada bar Irlandia-nya. Bagian paling padat penduduk adalah sebelah timur pulau ini.
Trawangan punya nuansa "pesta" lebih daripada Gili Meno dan Gili Air, karena banyaknya pesta sepanjang malam yang setiap malamnya dirotasi acaranya oleh beberapa tempat keramaian. Aktivitas yang populer dilakukan para wisatawan di Trawangan adalah scuba diving (dengan sertifikasi PADI), snorkeling (di pantai sebelah timur laut), bermain kayak, dan berselancar. Ada juga beberapa tempat bagi para wisatawan belajar berkuda mengelilingi pulau.
Di Gili Trawangan (begitu juga di dua gili yang lain), tidak terdapat kendaraan bermotor, karena tidak diizinkan oleh aturan lokal. Sarana transportasi yang lazim adalah sepeda (disewakan oleh masyarakat setempat untuk para wisatawan) dan cidomo, kereta kuda sederhana yang umum dijumpai di Lombok. Untuk bepergian ke dan dari ketiga gili itu, penduduk biasanya menggunakan kapal bermotor dan speedboat.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gili_Trawangan
Trawangan punya nuansa "pesta" lebih daripada Gili Meno dan Gili Air, karena banyaknya pesta sepanjang malam yang setiap malamnya dirotasi acaranya oleh beberapa tempat keramaian. Aktivitas yang populer dilakukan para wisatawan di Trawangan adalah scuba diving (dengan sertifikasi PADI), snorkeling (di pantai sebelah timur laut), bermain kayak, dan berselancar. Ada juga beberapa tempat bagi para wisatawan belajar berkuda mengelilingi pulau.
Di Gili Trawangan (begitu juga di dua gili yang lain), tidak terdapat kendaraan bermotor, karena tidak diizinkan oleh aturan lokal. Sarana transportasi yang lazim adalah sepeda (disewakan oleh masyarakat setempat untuk para wisatawan) dan cidomo, kereta kuda sederhana yang umum dijumpai di Lombok. Untuk bepergian ke dan dari ketiga gili itu, penduduk biasanya menggunakan kapal bermotor dan speedboat.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gili_Trawangan
Raja Mataram Lombok tempo dulu
Kerajaan Selaparang merupakan salah satu kerajaan tertua yang pernah tumbuh dan berkembang di pulau Lombok, bahkan disebut-sebut sebagai embrio yang kemudian melahirkan raja-raja Lombok masa lalu. Terbukti penamaan pulau ini juga sering disebut sebagai bumi Selaparang atau dalam istilah lokalnya sebagai Gumi Selaparang.
Asal muasal Setidak-tidaknya ada tiga pendapat tentang asal muasal kerajaan Selaparang (Buku Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat, 2002).
Pertama,
disebutkan bahwa kerajaan ini merupakan proses kelanjutan dari kerajaan tertua di pulau Lombok, yaitu "Kerajaan Desa Lae" yang diperkirakan berkodudukan di Kecamatan Sambalia, Lombok Timur sekarang. Dalam perkembangannya masyarakat kerjaan ini berpindah dan membangun sebuah kerajaan baru, yaitu kerajaan Pamatan di Kecamatan Aikmel dan diduga berada di Desa Sembalun Sekarang.
Dan ketika Gunung Rinjani meletus, penduduk kerajaan ini terpencar-pencar yang menandai berakhirnya kerajaan. Betara Indra kemudian mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Suwung, yang terletak di sebelah utara Perigi sekarang.Setelah berakhirnya kerajaan yang disebut terakhir, barulah kemudian muncul Kerajaan Lombok atau Kerajaan Selaparang.
Kedua,
disebutkan bahwa setelah Kerajaan Lombok dihancurkan oleh tentara Majapahit, Raden Maspahit melarikan diri ke dalam hutan dan sekembalinya tentara itu Raden Maspahit membangun kerajaan yang baru bernama Batu Parang yang kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Selaparang.
Ketiga,
disebutkan bahwa pada abad XII, terdapat satu kerajaan yang dikenal dengan nama kerajaan Perigi yang dibangun oleh sekelompok transmigran dari Jawa di bawah pimpinan Prabu Inopati dan sejak waktu itu pulau Lombok dikenal dengan sebutan Pulau Perigi. Ketika kerajaan Majapahit mengirimkan ekspedisinya ke Pulau Bali pada tahun 1443 yang diteruskan ke Pulau Lombok dan Dompu pada tahun 1357 dibawah pemerintahan Mpu Nala, ekspedisi ini menaklukkan Selaparang (Perigi?) dan Dompu.
Bahasa
nampi Dengan mengacu kepada ahli sejarah berkebangsaan Belanda, L. C. Van den Berg yang menyatakan bahwa, berkembangnya Bahasa Kawi sangat mempengaruhi terbentuknya alam pikiran agraris dan besarnya peranan kaum intelektual dalam rekayasa sosial politik di Nusantara.
Fathurrahman Zakaria (1998) menyebutkan bahwa para intelektual masyarakat Selaparang dan Pejanggik sangat mengetahui Bahasa Kawi. Bahkan kemudian dapat menciptakan sendiri aksara Sasak yang disebut sebagai jejawen. Dengan modal Bahasa Kawi yang dikuasainya, aksara Sasak dan Bahasa Sasak, maka para pujangganya banyak mengarang, menggubah, mengadaptasi, atau menyalin manusia Jawa kuno ke dalam lontar-lontar Sasak.
Lontar-lontar dimaksud, antara lain Kotamgama, lapel Adam, Menak Berji, Rengganis, dan lain-lain. Bahkan para pujangga juga banyak menyalin dan mengadaptasi ajaran-ajaran sufi para walisongo, seperti lontar-lontar yang berjudul Jatiswara, Lontar Nursada dan Lontar Nurcahya. Bahkan hikayat-hikayat Melayu pun banyak yang disalin dan diadaptasi, seperti Lontar Yusuf, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Sidik Anak Yatim, dan sebagainya.
Dengan mengkaji lontar-lontar tersebut, menurut Fathurrahman Zakaria (1998) kita akan mengetahui prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman dalam rekayasa sosial politik dan sosial budaya kerajaan dan masyarakatnya.
Dalam bidang sosial politik misalnya, Lontar Kotamgama lembar 6 lembar menggariskan sifat dan sikap seorang raja atau pemimpin, yakni Danta, Danti, Kusuma, dan Warsa. Danta artinya gading gajah; apabila dikeluarkan tidak mungkin dimasukkan lagi. Danti artinya ludah; apabila sudah dilontarkan ke tanah tidak mungkin dijilat lagi. Kusuma artinya kembang; tidak mungkin kembang itu mekar dua kali. Warsa artinya hujan; apabila telah jatuh ke bumi tidak mungkin naik kembali menjadi awan. Itulah sebabnya seorang raja atau pemimpin hendaknya tidak salah dalam perkataan.
Selain itu, dalam lontar-lontar yang ada diketahui bahwa istilah-istilah dan ungkapan yang syarat dengan ide dan makna telah dipergunakan dalam bidang politik dan hukum, misalnya kata hanut (menggunakan hak dan kewajiban), tapak (stabil), tindih (bertata krama), rit (tertib), jati (utama),tuhu (sungguh-sungguh), bakti (bakti, setia), atau terpi (teratur).
Dalam bidang ekonomi, seperti itiq (hemat), loma (dermawan), kencak (terampil), atau genem (rajin). Pariwisata Lombok dalam banyak hal mirip dengan Bali, dan pada dasawarsa tahun 1990-an mulai dikenal wisatawan mancanegara. Namun dengan munculnya krismon dan krisis-krisis lainnya, potensi pariwisata agak terlantarkan.
Lalu pada awal tahun 2000 terjadi kerusuhan antar-etnis dan antar agama di seluruh Lombok sehingga terjadi pengungsian besar-besaran kaum minoritas. Mereka terutama mengungsi ke pulau Bali.
Sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=308041375502
Asal muasal Setidak-tidaknya ada tiga pendapat tentang asal muasal kerajaan Selaparang (Buku Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat, 2002).
Pertama,
disebutkan bahwa kerajaan ini merupakan proses kelanjutan dari kerajaan tertua di pulau Lombok, yaitu "Kerajaan Desa Lae" yang diperkirakan berkodudukan di Kecamatan Sambalia, Lombok Timur sekarang. Dalam perkembangannya masyarakat kerjaan ini berpindah dan membangun sebuah kerajaan baru, yaitu kerajaan Pamatan di Kecamatan Aikmel dan diduga berada di Desa Sembalun Sekarang.
Dan ketika Gunung Rinjani meletus, penduduk kerajaan ini terpencar-pencar yang menandai berakhirnya kerajaan. Betara Indra kemudian mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Suwung, yang terletak di sebelah utara Perigi sekarang.Setelah berakhirnya kerajaan yang disebut terakhir, barulah kemudian muncul Kerajaan Lombok atau Kerajaan Selaparang.
Kedua,
disebutkan bahwa setelah Kerajaan Lombok dihancurkan oleh tentara Majapahit, Raden Maspahit melarikan diri ke dalam hutan dan sekembalinya tentara itu Raden Maspahit membangun kerajaan yang baru bernama Batu Parang yang kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Selaparang.
Ketiga,
disebutkan bahwa pada abad XII, terdapat satu kerajaan yang dikenal dengan nama kerajaan Perigi yang dibangun oleh sekelompok transmigran dari Jawa di bawah pimpinan Prabu Inopati dan sejak waktu itu pulau Lombok dikenal dengan sebutan Pulau Perigi. Ketika kerajaan Majapahit mengirimkan ekspedisinya ke Pulau Bali pada tahun 1443 yang diteruskan ke Pulau Lombok dan Dompu pada tahun 1357 dibawah pemerintahan Mpu Nala, ekspedisi ini menaklukkan Selaparang (Perigi?) dan Dompu.
Bahasa
nampi Dengan mengacu kepada ahli sejarah berkebangsaan Belanda, L. C. Van den Berg yang menyatakan bahwa, berkembangnya Bahasa Kawi sangat mempengaruhi terbentuknya alam pikiran agraris dan besarnya peranan kaum intelektual dalam rekayasa sosial politik di Nusantara.
Fathurrahman Zakaria (1998) menyebutkan bahwa para intelektual masyarakat Selaparang dan Pejanggik sangat mengetahui Bahasa Kawi. Bahkan kemudian dapat menciptakan sendiri aksara Sasak yang disebut sebagai jejawen. Dengan modal Bahasa Kawi yang dikuasainya, aksara Sasak dan Bahasa Sasak, maka para pujangganya banyak mengarang, menggubah, mengadaptasi, atau menyalin manusia Jawa kuno ke dalam lontar-lontar Sasak.
Lontar-lontar dimaksud, antara lain Kotamgama, lapel Adam, Menak Berji, Rengganis, dan lain-lain. Bahkan para pujangga juga banyak menyalin dan mengadaptasi ajaran-ajaran sufi para walisongo, seperti lontar-lontar yang berjudul Jatiswara, Lontar Nursada dan Lontar Nurcahya. Bahkan hikayat-hikayat Melayu pun banyak yang disalin dan diadaptasi, seperti Lontar Yusuf, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Sidik Anak Yatim, dan sebagainya.
Dengan mengkaji lontar-lontar tersebut, menurut Fathurrahman Zakaria (1998) kita akan mengetahui prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman dalam rekayasa sosial politik dan sosial budaya kerajaan dan masyarakatnya.
Dalam bidang sosial politik misalnya, Lontar Kotamgama lembar 6 lembar menggariskan sifat dan sikap seorang raja atau pemimpin, yakni Danta, Danti, Kusuma, dan Warsa. Danta artinya gading gajah; apabila dikeluarkan tidak mungkin dimasukkan lagi. Danti artinya ludah; apabila sudah dilontarkan ke tanah tidak mungkin dijilat lagi. Kusuma artinya kembang; tidak mungkin kembang itu mekar dua kali. Warsa artinya hujan; apabila telah jatuh ke bumi tidak mungkin naik kembali menjadi awan. Itulah sebabnya seorang raja atau pemimpin hendaknya tidak salah dalam perkataan.
Selain itu, dalam lontar-lontar yang ada diketahui bahwa istilah-istilah dan ungkapan yang syarat dengan ide dan makna telah dipergunakan dalam bidang politik dan hukum, misalnya kata hanut (menggunakan hak dan kewajiban), tapak (stabil), tindih (bertata krama), rit (tertib), jati (utama),tuhu (sungguh-sungguh), bakti (bakti, setia), atau terpi (teratur).
Dalam bidang ekonomi, seperti itiq (hemat), loma (dermawan), kencak (terampil), atau genem (rajin). Pariwisata Lombok dalam banyak hal mirip dengan Bali, dan pada dasawarsa tahun 1990-an mulai dikenal wisatawan mancanegara. Namun dengan munculnya krismon dan krisis-krisis lainnya, potensi pariwisata agak terlantarkan.
Lalu pada awal tahun 2000 terjadi kerusuhan antar-etnis dan antar agama di seluruh Lombok sehingga terjadi pengungsian besar-besaran kaum minoritas. Mereka terutama mengungsi ke pulau Bali.
Sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=308041375502
Suasana kampus Akpar yang asri
Beginilah suasana taman kampus yang rindang dan hijau. Mahasiswa yang sedang menunggu mata kulyahnya tidak akan pernah bosan untuk sekedar duduk bersama dengan teman-teman. Apalagi ditemani dengan rokok dan segelas kopi bersama. hehehe.........
Senyum ceria selalu tersungging walaupun KTA mereka belum juga di ACC kan oleh dosen pembimbing masing-masing. Para dosen sibuk dengan segala kesibukannya. Tapi, satu tekad yang sangat tinggi selalu kami gantungkan untuk cita-cita yaitu wisuda tahun ini.
Senyum ceria selalu tersungging walaupun KTA mereka belum juga di ACC kan oleh dosen pembimbing masing-masing. Para dosen sibuk dengan segala kesibukannya. Tapi, satu tekad yang sangat tinggi selalu kami gantungkan untuk cita-cita yaitu wisuda tahun ini.
Dosen bhs jepang akpar mataram
Sebagai kampus pariwisata akpar mataram menekuni berbagai disiplin ilmu baik bahasa inggris bahasa jepang maupun bahasa asing lainnya. Salah satu dosen bahasa jepang dibimbing oleh ibu Furi yang menamatkan kulyahnya di jepang.
Kemampuannya mengajar sudah tidak diragukan lagi baik secara berbahasa dan budaya jepang. Selain dosennya yang baik, ibu Furi juga sangat antusias untuk mengajar. Jadi, mahasiswa juga merasa senang diajar oleh beliau. Materi yang diajarkan mulai dari belajar tulisan, membaca, dan kosa kata.
Disamping itu, bahasa jepang tidak lepas dari tata cara dalam pengucapannya yang secara sopan. Jadi, belajar bahasa jepang sangat berkaitan erat dengan mempeajari budayanya. Terima kasih ibu Furi.
Kemampuannya mengajar sudah tidak diragukan lagi baik secara berbahasa dan budaya jepang. Selain dosennya yang baik, ibu Furi juga sangat antusias untuk mengajar. Jadi, mahasiswa juga merasa senang diajar oleh beliau. Materi yang diajarkan mulai dari belajar tulisan, membaca, dan kosa kata.
Disamping itu, bahasa jepang tidak lepas dari tata cara dalam pengucapannya yang secara sopan. Jadi, belajar bahasa jepang sangat berkaitan erat dengan mempeajari budayanya. Terima kasih ibu Furi.
Keceriaan akpar mataram
Sebagai anak pariwisata kami mahasiswa akpar senantiasa selalu team work, ceria, dan berpenampilan menarik. Suatu harapan yang besar selalu kami sandangkan di almamater akpar tercinta. Maju terus akpar mataram, cetak generasimu yang berbudaya, cerdas dan berdaya saing baik secara nasional maupun internasional.
Tanjung karang beach on sunset
Pantai Tanjung Karang di Palu letaknya 30 menit perjalanan dari kota palu, jalan menuju kesana sangat bagus, sudah diaspal licin, mobil kita akan menyisiri pantai sepanjang palu. sesampainya disana, keletihan perjalanan akan terbayar lunas, pasir putih akan menyambut kita. pemandangan laut lepas benar2 mengisi energi dari segala kepenatan. dua kali saya kesana, saya perhatikan hanya beberapa kelompok wisatawan mancanegara dan domestik yang asyik duduk2 disana. fasilitas air bersih masih sangat minim, permainan seperti banana boat, jetski, para sailing, dayung, peralatan renang yang dapat kita jumpai di pantai sanur dan senggigi tidak tersedia. ada sih tempat bermain perahu, dan dayung yang saya temui dalam perjalanan dari palu ke tanjung karang.
sayangnya fasilitas yang tersedia sangat minim, seperi air bersih dan hotel2 seperti di Pulau bali dan lombok. kurangnya pemodal yang menginvestasikan pembangunan di daerah tersebut, promosi dari pemda, dan senangnya orang indonesia berlibur ke luar negeri menyebabkan pariwisata indonesia menjadi mati suri. hanya Bali dan lombok saja yang menjadi tempat favorit wisatawan domestik, sementara pantai lainnya kurang begitu diminati.
Sungguh sangat disayangkan, keindahan alam indonesia tidak dapat menjadikan parawisata menjadi favorit dan terkenal di indonesia dan dunia.
Sumber : http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/03/30/pantai-tanjung-karang-seelok-pantai-kuta-bali/
sayangnya fasilitas yang tersedia sangat minim, seperi air bersih dan hotel2 seperti di Pulau bali dan lombok. kurangnya pemodal yang menginvestasikan pembangunan di daerah tersebut, promosi dari pemda, dan senangnya orang indonesia berlibur ke luar negeri menyebabkan pariwisata indonesia menjadi mati suri. hanya Bali dan lombok saja yang menjadi tempat favorit wisatawan domestik, sementara pantai lainnya kurang begitu diminati.
Sungguh sangat disayangkan, keindahan alam indonesia tidak dapat menjadikan parawisata menjadi favorit dan terkenal di indonesia dan dunia.
Sumber : http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/03/30/pantai-tanjung-karang-seelok-pantai-kuta-bali/
Langganan:
Postingan (Atom)





